MENGATASI KEGAGALAN PENETASAN TELUR

gagal menetas

Telur yang ditetaskan tidak semuanya dapat menetas, terutama yang dilakukan secara buatan. Telur yang tidak menetas ini dapat disebabkan banyak faktor, terutama keadaan telur yang ditetaskan dan cara penetasannya. Hal yang sangat mungkin terjadi ialah akibat gagalnya embrio berkembang dengan baik. Perkembang-an embrio ayam dalam telur tetas ini sangat berperan dalam sukses tidaknya penetasan telur.

Sebenarnya gagalnya penetasan telur ini dapat diatasi bila gejala atau ciri-cirinya sudah diketahui sejak dini. Tentu saja gejala ini ha-rus dapat dideteksi baik dengan mata telanjang atau dengan alat khu-sus tanpa merusakkan telur tetas. Tabel 6 memberikan gambaran mengenai penyebab dan cara mengatasi berbagai gejala atau ciri yang dapat menggagalkan penetasan.

TABEL . Kemungkinan Penyebab Dan Tindakan Pencegahan Beberapa Gejala Yang Dapat Menggagalkan Penetasan

GEJALA KEMUNGKINAN PENYEBAB TINDAKAN 7 PENCEGAHAN

Telur Meledak

– Telur terkontaminasi bakteri – Telur dibersihkan dan difumi gasi sebelum ditetaskan
– Telur kotor – Telur dibersihkan sebelum ditetaskan
– Pencucian telur kurang baik – Telur dicuci bersih
– Mesin tetas kotor/terkon taminasi bakteri – Mesin tetas dibersihkan dan difumigasi
Telur tampak terang saat diteropong – Telur infertil karena perban dingan antara jago (pejantan) dan induk kurang seimbang – Perbandingan jago dan induk diseimbangkan (1 : 6/7/8)
– Telur infertil karena gizi jago dan induk kurang sempurna (defisiensi vitamin A dan E) – Gizi diperbaiki dengan penambahan atau pemberian vitamin A dan E
– Telur infertil karena umur jago atau induk terlalu muda atau tua – Harus disiapkan jago berumur 12 bulan dan induk 10 bulan
– Telur infertil karena jago kurang aktif atau kualitas sperma kurang baik – Jago diganti dengan yang baik dan diberi ransum berkualitas
– Embrio mati dini karena penyimpanan telur tetas kurang baik – Telur tetas harus disimpan pada suhu 12-15° C (55-60° F) dan kelembapan 75-80%
– Tempat penyimpanan terlin dung dari pengaruh panas dan angin langsung, bersih, serta tidak berbau.
– Embrio mati dini karena penyimpanan telur tetas terlalu lama – Lama penyimpanan 10—14 hari, namun yang terbaik 7 hari
– Embrio mati dini karena fumigasi terlalu lama atau dosis fumigan terlalu tinggi – Fumigasi dilakukan sesuai dosis dan waktu yang ditetapkan
Telur tampak seperti ada gumpalan darah berbentuk cincin saat diteropong – Embrio mati umur 2-4 hari karena bawaan dari induk – Induk diseleksi hanya yang baik saja
– Embrio mati umur 2-4 hari karena jago dan induknya terserang penyakit – Induk harus bebas penyakit
– Telur terlalu lama atau tua – Telur diseleksi sebelum ditetaskan
– Penanganan telur terlalu kasar Penanganan telur harus hati-hati
– Suhu penetasan terlalu tinggi atau terlalu rendah – Suhu dikontrol dengan menggunakan thermostat (pengatur suhu) dan pengaturan ventilasi
Kematian embrio pada minggu kedua tinggi – Pakan induknya kurang sempurna – Induk diberi pakan yang baikdan cukup
– Pengaruh faktor bawaan dari induk – Induk dipilih yang baik
– Telur disimpan di tempatpanas sebelum ditetaskan – Penyimpanan telur harusbenar
– Suhu penetasan terlalutinggi atau terlalu rendah – Termostat dikontrol danventilasi diatur
– Pemutaran telur tidak ter-atur dan atau frekuensi

pemutaran kurang

– Pemutaran telur dilakukanteratur tiga kali sehari
– Ventilasi kurang baik sehingga ruang penetasan terlalu banyak C02 – Pembukaan dan penutupanventilasi diatur sesuai

perkembangan embrio

Kantung udara terlalu kecil (telur lama dalam penetasan) – Telur terlalu besar dibandingkan besar rata-rata telur tetas – Besar telur yang ditetaskan harus relatif sama atau seragam, yaitu ayam kampung 45—50 g dan ayam ras 55—60 g
Kantung udara terlalu besar – Telur terlalu kecil – Besar telur harus diseleksi
– Kelembapan pada 1—19 hari terlalu rendah – Bak air harus selalu terisi 2/3 bagian
Telur menetas terlalu dini – Kelembapan pada 1—19 hari terlalu tinggi – Jumlah air dalam bak harus dikurangi
– Telur terlalu kecil – Telur harus diseleksi
– Suhu pada 1—19 hari terlalu tinggi – Termostat dikontrol dan ventilasi diatur
Telur terlambat menetas – Telur terlalu besar – Telur harus diseleksi
– Telur sudah lama – Telur harus diseleksi
– Suhu pengeraman terlalu rendah – Termostat dikontrol dan ventilasi diatur
– Kelembapan pengeraman terlalu rendah – Bak air dikontrol, berisi air 2/3 bagian
Embrio tumbuh, tetapi paruh belum ada dalam kantung udara – Pemberian pakan pada induk kurang sempurna (defisiensi) – Induk diberi pakan yang baik
– Sirkulasi udara dalam mesin tetas kurang baik – Pengaturan ventiiasi perlu dikontrol
– Suhu pada 1—10 hari terlalu tinggi – Termostat perlu dikontrol
– Kelembapan pada harike-19 terlalu tinggi – Bak air dalam mesin tetas perlu selalu dikontrol
Kerabang telur terlalu dini retak (pipping) – Suhu pada 1—19 hari terlalu tinggi – Termostat dikontrol dan ventilasi diatur
– Kelembapan pada 1—19 hari terlalu tinggi – Bak air dikontrol
Embrio mati setelah kerabang telur retak – Pakan untuk induk kurang baik – Induk diberi pakan yang baik
– Induk terserang penyakit – Induk dipilih yang sehat
– Faktor bawaan oleh induk – Induk dipilih yang baik
– Adanya gen letal yang dibawa induknya – Induk dipilih yang baik
– Kerabang telur tipis – Telur diseleksi
– Peletakan bagian ujung telur yang runcing di atas – Bagian ujung telur yang runcing harus berada dibawah
– Pemutaran telur setelah dimasukkan ke mesin tetas terlambat – Telur harus diputar (dibolakbalik) pada umur 4-18 hari
– Telur tidak memperoleh suhu, kelembapan, dan ventilasi yang sesuai – Termostat, bak air, dan ventilasi perlu dikontrol
Posisi embrio abnormal – Pakan untuk induk kurang baik – Induk diberi pakan yang baik
– Bentuk telur abnormal – Telur dipilih hanya yang bu-lat telur (oval)
– Peletakan bagian ujung telur yang runcing berada diatas – Bagian ujung telur yang runcing diletakkan di bagian bawah, sedangkan bagian yang tumpul di atas
– Pemutaran telur kurang benar – Telur diputar saat umur 4—18 hari minimal tiga kali sehari
Anak ayam lengket (albumen lengket pada bulu) – Telur terlalu lama – Telur diseleksi
– Sirkulasi udara dalam ruang penetasan terlalu lambat – Ventiiasi udara perlu selalu dikontrol
–  Suhu ruang penetasan ter­lalu tinggi – Termostat dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan terlalu tinggi – Bak air dikontrol
Anak ayam tidak serempak menetas – Bobot telur terlalu beragam – Telur diseleksi hanya yang besarnya sama atau seragam
– Umur telur beragam – Telur diseleksi hanya yang umurnya relatif sama
– Telur berasal dari induk dengan bangsa (breed) berbeda – Telur diseleksi hanya yang induknya dari bangsa yang sama
– Adanya penyakit atau cekaman pada sekelompok induk – Stres induk atau serangan penyakit harus dicegah
– Sirkulasi udara dalam mesin kurang baik – Ventilasi udara perlu dikontrol
Anak ayam yang menetas lembek – Sanitasi mesin tetas kurang baik – Mesin tetas harus disanitasi dengan baik dan benar
– Suhu ruang penetasan terlalu rendah – Termostat dan ventiiasi udara harus dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan terlalu tinggi – Bak air dan ventilasi udara harus dikontrol
Anak ayam yang menetas kekeringan – Telur terlalu dini ditetaskan – Telur diseleksi hanya yang cukup umur
– Kelembapan ruang penetasan terlalu rendah – Bak air dan ventiiasi udara dikontrol
– Anak ayam terlalu lama berada dalam mesin tetas setelah menetas – Anak ayam segera dikeluarkan dari mesin tetas setelah semua bulunya kering
Anak ayam yang baru menetasbasah, kotor, dan bau kurang sedap – Sanitasi mesin tetas kurang baik – Mesin tetas disanitasi dengan baik
Pusar basah dan tidak menutup dengan baik – Kualitas pakan untuk induk kurang sempuma – Induk diberi pakan berkualitas dan sesuai kebutuhan
– Suhu ruang penetasan terlalu rendah – Termostat dan ventilasi udara dikontrol
– Suhu ruang penetasan berubah-ubah – Termostat dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan terlalu tinggi – Bak air dan ventilasi udara dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan setelah   anak ayam menetas tidak diturunkan – Bak air dikontrol dan kelembapan diturunkan
Pusar tidak menutup, basah,dan bau Anak ayam tidak dapat berdiri setelah menetas – Terjadi radang pusar (omfalitis) – Telur dan mesin tetas disanitasi dengan baik
– Ruang penetasan kotor – Mesin tetas disanitasi
– Kualitas pakan untuk indukkurang sempurna – Induk diberi pakan berkualitas dan sesuai kebutuhan
– Suhu ruang penetasan ti-dak memenuhi syarat – Suhu ruang penetasan harus sesuai dengan kebutuhan
– Kelembapan ruang pene-tasan terlalu tinggi – Bak air dan ventilasi udara dikontrol
– Perlakuan pembukaan ventilasi tidak memenuhi syarat – Ventilasi dibuka sesuai perkembangan embrio dengan pengaturan:* hari ke-1 sampai ke-3 tertutup penuh * hari ke-4 terbuka ¼ bagian

* hari ke-5 terbuka ½ bagian

* hari ke-6 terbuka 3/4 bagian

* hari ke-7 sampai ke-21 terbuka penuh

Anak ayam pengkor – Kualitas pakan untuk induk kurang baik – Induk diberi pakan yang baik dan berkualitas
– Suhu ruang penetasan naik-turun – Termostat dikontrol
– Posisi embrio tidak normal – Telur yang akan ditetaskan harus diseleksi
Jari-jari anak ayam bengkok –  Kualitas pakan untuk induk tidak sempurna – Induk diberi pakan berkua­ litas
–  Suhu ruang penetasan ti­dak memenuhi syarat -Termostat harus dikontrol 
Kaki anak ayam tidak lurus dan berjauhan satu sama lainBulu pendek mata tertutup –  Alas tempat anak ayam
licin-  Kualitas pakan induk ku­
rang sempurna

–  Suhu pada 10 hari pertama
masa penetasan terlalu
tinggi

–  Suhu menjelang menetas
terlalu tinggi

–  Kelembapan menjelang me­
netas terlalu tinggi

–  Ada banyak sisa-sisa bulu
rontok dalam ruang pene­
tasan

-Alas tempat anak ayam di-
buat dari bahan yang tidak
licin-  Induk diberi pakan berkua­
litas

–  Suhu diatur sesuai periode
penetasan

-Termostat dikontrol

-Bak air dikontrol

–  Sisa-sisa bulu rontok dalam
ruang penetasan dibersihkan

 

Baca Juga Mengetahui Perkembangan Embrio Ayam Secara Berkala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *