Tips Sebelum Memulai Beternak Itik

BEBEK HIBRIDA

Untuk menentukan apakah akan memulai usaha ternak itik dari menetaskan telur, itik remaja, atau dari itik yang siap bertelur, perlu pertimbangan-pertimbangan khusus.

  1. Apabila akan mulai dari menetaskan telur bebek/itik maka diperlukan kemampuan menggunakan alat penetas telur bebek otomatis maupun manual, kemampuan memilih telur tetas yang baik, dan kemampuan memelihara anak itik. Keuntungan dari menetaskan sendiri adalah kualitas anak itik dari awal sampai bertelur dapat diketahui dan dapat memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan itik jantan.
  2. Apabila mulai dari itik remaja atau itik siap bertelur, diperlukan kemampuan memilih itik yang baik dan modal yang besar sebab dikenakan biaya pembesaran.
  3. Bagi peternak yang ingin segera menikmati produksi telur,mulai dari penetasan jelas hams menunggu lebih lama.
  4. Mulailah usaha dari telur tetas, bila menguasai keterampilanketerampilan seperti di atas (a), karena lebih murah dan lebih baik.

Itik Pedaging dan Itik Petelur
Saya seorang petani yang berkeinginan beternak itik. Namun, setelah mendengar beternak itik mempunyai dua tujuan produksi, yaitu petelur dan pedaging, saya menjadi bingung. Oleh karenanya, saya ingin mendapatkan penjelasan mengenai beberapa hal. Apakah pemeliharaan itik pedaging maupun petelur sama? Manakah yang lebih baik, itik pedaging atau itik petelur bila ditinjau dari segi pasamya?

Pada awal domestikasi itik, sebenarnya  semua  itik sama lam bentuk dan bobot badan, kemampuan menghasilkan telur, bahkan dalam warna bulu. Jadi, pada awalnya tidak ada itik petelur atau itik pedaging. Setelah didomestikasi, seleksi dan pemuliaan, terbentuklah itik dengan bobot badan, bentuk badan, kemampuan menghasilkan telur, dan warna bulu yang beragam.

Itik lokal yang terdapat di Indonesia merupakan itik tipe petelur. Walaupun demikian, saat ini itik jantan muda maupun itik betina yang tidak produktif dimanfaatkan sebagai itik pedaging.

Untuk memilih yang lebih baik antara memelihara itik pedaging atau itik petelur, perlu dipelajari pemasarannya lebih dahulu.

Cara menentukan jenis kelamin anak itik yang baru menetas dapat dengan melihat alat kelaminnya. Untuk melihat alat kelamin, perhatikan gambar di bawah.

jenis kelamin itikMenentukan jenis kelamin anak itik (Sumber: Stromberg. L., 1977, Sexing All Fowl, Baby Chicks, Game Birds, Cage Birds)

 

baca Juga Pemberian Pakan yang Benar untuk Ternak Itik

Pemberian Pakan yang Benar untuk Ternak Itik Part 2

Tempat makan minum itikTempat Pakan dan Minum
Bentuk tempat pakan yang biasa digunakan untuk itik ada-lah persegi panjang atau bulat. Berdasarkan pengalaman, bentuk tempat pakan yang bulat seperti baskom lebih efisien dalam penggunaan tempat. Dasar dari tempat pakan harus datar (lihat gambar) agar itik dapat dengan mudah menghabiskan pakannya. Untuk memudahkan menelan, itik mempunyai kebiasaan sering minum pada saat makan. Oleh karena itu, sebaiknya tempat pa­kan dan tempat minum diletakkan berdekatan.

Walaupun senang bermain di tempat yang kotor, tetapi dalam hal pakan itik sangat pemilih. Itik biasanya hanya mema­kan secara terus-menerus selama ± 15 menit, setelah itu istirahat Bila ada yang tersisa, biasanya pakan tidak dimakan lagi dan akan menjadi basi. Itik akan menolak memakan pakan yang basi karena baunya asam. Oleh karena itu, pengolahan kembali sisa pakan sebaiknya tidak dilakukan. Ini disebabkan selain itiknya tidak menyukai, sisa pakan tersebut kemungkinan sudah tercemar jamur yang membahayakan kesehatan itik. Agar pakan yang diberikan tidak tersisa, sebaiknya sekali pemberian dapat diha­biskan dalam waktu 15 menit.

Pemberian Pakan untuk DOD Hingga Dewasa
Cara pemberian pakan dapat dijawab darl dua segi, yaitu segi penyajian dan segi penjatahan.

Cara penyajian
Cara penyajian ada dua macam, yaitu berdasarkan bentuk pakan dan berdasarkan frekuensi pemberian. Cara penyajian berdasarkan bentuk pakan sudah dijelaskan di muka, yaitu ada yang bentuk pakan halus basah, butiran kering, atau pelet kering.
Cara penyajian berdasarkan frekuensi pemberian tergan-tung pada bentuk pakan yang diberikan (basah atau kering) dan umur itik.

  1. Pakan basah
    Pakan dalam bentuk basah harus diberikan sedikit-sedikit dan sering. Tujuan dari pemberian sedikit-sedikit adalah agar pakan basah tersebut habis dalam waktu sekitar 15 menit. Bila tidak, pakan basah akan tersisa dan menjadi asam, berjamur, serta mengundang lalat.
  2. Pakan kering
    Seperti telah dijelaskan di atas, waktu makan itik hanya sebentar-sebentar. Pada saat makan, itik sering menyelinginya dengan minum sehingga paruhnya yang basah akan mem-basahi pakan pada saat itik makan kembali. Akibatnya, pa­kan yang semula kering menjadi basah dan cepat berbau asam. Oleh karena itu, untuk merangsang makan, pemberi­an pakan kering juga harus sedikit-sedikit supaya cepat habis.
  3. Penjatahan pakan
    Banyaknya pakan yang diberikan tergantung pada umur itik. Antara umur 1 hari hingga 4 minggu, anak itik diberi ma­kan sekenyangnya untuk menunjang pertumbuhan kerangka dan bagian tubuh lainya.

Antara umur 4-16 minggu, itik tidak boleh makan seke­nyangnya, tetapi harus dibatasi. Tujuannya adalah agar itiknya tidak terlalu cepat tumbuh dan mulai bertelur pada umur muda. Bila itik mulai bertelur pada umur muda, telurnya akan kecil-kecil.

Setelah umur 16 minggu, itik boleh makan sesuai dengan keinginannya karena pakan yang dikonsumsinya akan digunakan untuk memproduksi telur.

Pemberian Pakan yang Benar untuk Ternak Itik

pemberian pakan itik

Pakan Tambahan dari Jagung dan Dedak
Pemeliharaan itik dengan cara di atas tidak salah. Dari segi usaha cara tersebut justru baik karena peternak mendapatkan telur tanpa mengeluarkan biaya untuk pakan atau biayanya kecil sekali. Namun, kelemahan dari cara pemberian pakan seperti di atas ialah peternak tidak tahu kalau itik-itik telah mendapatkan pakan yang cukup dalam kuantitas dan kualiilfas. Hal ini penting karena akan berpengaruh terhadap kemampuannwa menghasilkan telur.

Kelemahan yang lain ialah bila tidak musim panen, itik tersebut tidak menghasilkan telur. Ini berarti pendapatan peternak dari telur terhenti sehingga peternak terpaksa melakukan “ijon”, yaitu meminjam uang yang-akan dibayar dengan telur. Sistem itu tentunya merugikan peternak karena telurnya selalu dihargai lebih murah. Biasanya jangka waktu berproduksi itik-itik yang dipelihara seperti di atas pendek, yaitu antara 3-4 bulan. Masa produksi tersebut dapat diperpanjang sampai sekitar 6 bulan bila diberikan makanan sesuai dengan yang dibutuhkan.

Bahan Pakan Tambahan
Perlu diketahui bahwa daging dan telur itik terdiri dari zat-zat gizi seperti air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang semuanya berasal dari pakan. Bila itik digembalakan di sawah, protein, lemak, dan mineral diperoleh dari cacing, siput, dan binatang kecil lain. Adapun karbohidrat didapat dari padi yang tercecer, sedangkan vitamin, selain dari bahan-bahan yang telah disebutkan, juga diperoleh dari tumbuh-tumbuhan kecil yang ada di tempat penggembalaan.

Zat-zat gizi tersebut juga terdapat dalam bahan-bahan pakan seperti jagung, dedak, dedak gandum atau polar, tepung ikan, tepung daging campur tulang, bungkil kelapa, kedelai atau kacang, campuran vitamin, dan campuran mineral buatan pabrik. Kadang-kadang juga digunakan minyak atau lemak, kulit kerang, dan bahan-bahan lainnya.

Agar dapat menguasai kemampuan memberi pakan, Saudara perlu mengetahui manfaat dari bahan-bahan pakan tersebut. Manfaat utama bahan pakan tersebut adalah sebagai sumber karbohidrat dan lemak yang menghasilhan energi. Namun, bahan tersebut juga mempunyai manfaat lain karena mengandung air walaupun sedikit, protein, vitamin, dan mineral.

Membuat Pakan Itik
Cara membuat ramuan pakan ada dua cara, yaitu dengan menggunakan campuran konsentrat, jagung, dan/atau dedak serta dengan metode coba-coba.

  1. Menggunakan campuran konsentrat, jagung  dan/atau dedak
    Konsentrat untuk unggas merupakan campuran bahan-bahan yang mengandung protein tinggi, tetapi energi rendah. Oleh karena itu, penggunaannya harus dicampurkan dengan bahan sumber energi.
  1. Menyusun pakan dengan metode coba-coba
    Untuk membuat pakan itik dengan kandungan gizi tertentu (biasanya yang menjadi patokan ialah protein dan energi metaboIis) yang terdiri dari beberapa bahan, perlu dihitung jumlah ba­han yang akan digunakan. Caranya dengan metode “coba-coba”. Dalam metode ini, penyesuaian bahan pakan dilakukan dengan cara mengurangkan dan menambahkan banyaknya masing-masing bahan pakan yang digunakan hingga sesuai dengan yang dikehendaki. Bagi yang sudah berpengalaman, metode ini tidak sulit, tetapi bagi pemula perlu bimbingan.

Bentuk Pakan yang Cocok untuk Itik

Pabrik pakan memang menghasilkan “pakan jadi” dalam tiga bentuk, yaitu halus (mash), butiran (crumble), dan batangan kecil atau pelet (pellet). Sebenamya pelet merupakan hasil pemadatan dari bentuk halus, sedangkan butiran merupakan pelet berukur-an kecil. Oleh karena untuk menghasilkan pelet dan butiran diperlukan proses lebih lanjut setelah bentuk halus maka harga pelet dan butiran lebih mahal dari bentuk halus.

Kelebihan pelet dan butiran dari bentuk halus adalah dalam setiap butirnya terdapat semua pakan yang digunakan. Walaupun telah tercam-pur, tetapi bahan-bahan pakan yang terdapat dalam pakan bentuk halus masih tetap terpisah-pisah. Semua bentuk pakan itik baik untuk digunakan, asal cara pemberianya benar. Berikut cara pemberian masing-masing bentuk pakan   tersebut.

  1. Bentuk halus
    Pakan bentuk halus jangan diberikan dalam bentuk kering, melainkan halus basah. Paruh itik yang lebar dan bergerigi sulit untuk mengambil pakan halus dan kering. Bila terpaksa memakan pakan halus kering, sebagian dari pakan tersebut akan menempel di paruhnya. Pakan yang sudah masuk ke dalam rongga mulut akan melekat di langit-langit rongga mulut, lidah, dan tenggorokan. Keadaan ini akan merangsang itik untuk minum agar mudah menelan. Pada saat minum, sebagian dari pakan yang ada di rongga mulut dan paruh akan tertinggal di dalam air minum dan terbuang. Hal ini merupakan pemborosan. Berdasarkan pengamatan, pakan yang tercecer dalam air minum tersebut dapat mencapai 20—30% dari yang dimakan.
  2. Bentuk butiran
    Bentuk butiran dapat diberikan secara kering, terutama untuk itik setelah berumur 1 minggu.
  3. Bentuk batang atau pellet
    Itik dewasa masih dapat memakan pelet dengan panjang sampai 1 cm dan garis tengah sampai 0,5 cm tanpa kesulitan menelan

Lanjutan halaman ini >>

Baca juga MENGATASI KEGAGALAN PENETASAN TELUR

MENGATASI KEGAGALAN PENETASAN TELUR

gagal menetas

Telur yang ditetaskan tidak semuanya dapat menetas, terutama yang dilakukan secara buatan. Telur yang tidak menetas ini dapat disebabkan banyak faktor, terutama keadaan telur yang ditetaskan dan cara penetasannya. Hal yang sangat mungkin terjadi ialah akibat gagalnya embrio berkembang dengan baik. Perkembang-an embrio ayam dalam telur tetas ini sangat berperan dalam sukses tidaknya penetasan telur.

Sebenarnya gagalnya penetasan telur ini dapat diatasi bila gejala atau ciri-cirinya sudah diketahui sejak dini. Tentu saja gejala ini ha-rus dapat dideteksi baik dengan mata telanjang atau dengan alat khu-sus tanpa merusakkan telur tetas. Tabel 6 memberikan gambaran mengenai penyebab dan cara mengatasi berbagai gejala atau ciri yang dapat menggagalkan penetasan.

TABEL . Kemungkinan Penyebab Dan Tindakan Pencegahan Beberapa Gejala Yang Dapat Menggagalkan Penetasan

GEJALA KEMUNGKINAN PENYEBAB TINDAKAN 7 PENCEGAHAN

Telur Meledak

– Telur terkontaminasi bakteri – Telur dibersihkan dan difumi gasi sebelum ditetaskan
– Telur kotor – Telur dibersihkan sebelum ditetaskan
– Pencucian telur kurang baik – Telur dicuci bersih
– Mesin tetas kotor/terkon taminasi bakteri – Mesin tetas dibersihkan dan difumigasi
Telur tampak terang saat diteropong – Telur infertil karena perban dingan antara jago (pejantan) dan induk kurang seimbang – Perbandingan jago dan induk diseimbangkan (1 : 6/7/8)
– Telur infertil karena gizi jago dan induk kurang sempurna (defisiensi vitamin A dan E) – Gizi diperbaiki dengan penambahan atau pemberian vitamin A dan E
– Telur infertil karena umur jago atau induk terlalu muda atau tua – Harus disiapkan jago berumur 12 bulan dan induk 10 bulan
– Telur infertil karena jago kurang aktif atau kualitas sperma kurang baik – Jago diganti dengan yang baik dan diberi ransum berkualitas
– Embrio mati dini karena penyimpanan telur tetas kurang baik – Telur tetas harus disimpan pada suhu 12-15° C (55-60° F) dan kelembapan 75-80%
– Tempat penyimpanan terlin dung dari pengaruh panas dan angin langsung, bersih, serta tidak berbau.
– Embrio mati dini karena penyimpanan telur tetas terlalu lama – Lama penyimpanan 10—14 hari, namun yang terbaik 7 hari
– Embrio mati dini karena fumigasi terlalu lama atau dosis fumigan terlalu tinggi – Fumigasi dilakukan sesuai dosis dan waktu yang ditetapkan
Telur tampak seperti ada gumpalan darah berbentuk cincin saat diteropong – Embrio mati umur 2-4 hari karena bawaan dari induk – Induk diseleksi hanya yang baik saja
– Embrio mati umur 2-4 hari karena jago dan induknya terserang penyakit – Induk harus bebas penyakit
– Telur terlalu lama atau tua – Telur diseleksi sebelum ditetaskan
– Penanganan telur terlalu kasar Penanganan telur harus hati-hati
– Suhu penetasan terlalu tinggi atau terlalu rendah – Suhu dikontrol dengan menggunakan thermostat (pengatur suhu) dan pengaturan ventilasi
Kematian embrio pada minggu kedua tinggi – Pakan induknya kurang sempurna – Induk diberi pakan yang baikdan cukup
– Pengaruh faktor bawaan dari induk – Induk dipilih yang baik
– Telur disimpan di tempatpanas sebelum ditetaskan – Penyimpanan telur harusbenar
– Suhu penetasan terlalutinggi atau terlalu rendah – Termostat dikontrol danventilasi diatur
– Pemutaran telur tidak ter-atur dan atau frekuensi

pemutaran kurang

– Pemutaran telur dilakukanteratur tiga kali sehari
– Ventilasi kurang baik sehingga ruang penetasan terlalu banyak C02 – Pembukaan dan penutupanventilasi diatur sesuai

perkembangan embrio

Kantung udara terlalu kecil (telur lama dalam penetasan) – Telur terlalu besar dibandingkan besar rata-rata telur tetas – Besar telur yang ditetaskan harus relatif sama atau seragam, yaitu ayam kampung 45—50 g dan ayam ras 55—60 g
Kantung udara terlalu besar – Telur terlalu kecil – Besar telur harus diseleksi
– Kelembapan pada 1—19 hari terlalu rendah – Bak air harus selalu terisi 2/3 bagian
Telur menetas terlalu dini – Kelembapan pada 1—19 hari terlalu tinggi – Jumlah air dalam bak harus dikurangi
– Telur terlalu kecil – Telur harus diseleksi
– Suhu pada 1—19 hari terlalu tinggi – Termostat dikontrol dan ventilasi diatur
Telur terlambat menetas – Telur terlalu besar – Telur harus diseleksi
– Telur sudah lama – Telur harus diseleksi
– Suhu pengeraman terlalu rendah – Termostat dikontrol dan ventilasi diatur
– Kelembapan pengeraman terlalu rendah – Bak air dikontrol, berisi air 2/3 bagian
Embrio tumbuh, tetapi paruh belum ada dalam kantung udara – Pemberian pakan pada induk kurang sempurna (defisiensi) – Induk diberi pakan yang baik
– Sirkulasi udara dalam mesin tetas kurang baik – Pengaturan ventiiasi perlu dikontrol
– Suhu pada 1—10 hari terlalu tinggi – Termostat perlu dikontrol
– Kelembapan pada harike-19 terlalu tinggi – Bak air dalam mesin tetas perlu selalu dikontrol
Kerabang telur terlalu dini retak (pipping) – Suhu pada 1—19 hari terlalu tinggi – Termostat dikontrol dan ventilasi diatur
– Kelembapan pada 1—19 hari terlalu tinggi – Bak air dikontrol
Embrio mati setelah kerabang telur retak – Pakan untuk induk kurang baik – Induk diberi pakan yang baik
– Induk terserang penyakit – Induk dipilih yang sehat
– Faktor bawaan oleh induk – Induk dipilih yang baik
– Adanya gen letal yang dibawa induknya – Induk dipilih yang baik
– Kerabang telur tipis – Telur diseleksi
– Peletakan bagian ujung telur yang runcing di atas – Bagian ujung telur yang runcing harus berada dibawah
– Pemutaran telur setelah dimasukkan ke mesin tetas terlambat – Telur harus diputar (dibolakbalik) pada umur 4-18 hari
– Telur tidak memperoleh suhu, kelembapan, dan ventilasi yang sesuai – Termostat, bak air, dan ventilasi perlu dikontrol
Posisi embrio abnormal – Pakan untuk induk kurang baik – Induk diberi pakan yang baik
– Bentuk telur abnormal – Telur dipilih hanya yang bu-lat telur (oval)
– Peletakan bagian ujung telur yang runcing berada diatas – Bagian ujung telur yang runcing diletakkan di bagian bawah, sedangkan bagian yang tumpul di atas
– Pemutaran telur kurang benar – Telur diputar saat umur 4—18 hari minimal tiga kali sehari
Anak ayam lengket (albumen lengket pada bulu) – Telur terlalu lama – Telur diseleksi
– Sirkulasi udara dalam ruang penetasan terlalu lambat – Ventiiasi udara perlu selalu dikontrol
–  Suhu ruang penetasan ter­lalu tinggi – Termostat dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan terlalu tinggi – Bak air dikontrol
Anak ayam tidak serempak menetas – Bobot telur terlalu beragam – Telur diseleksi hanya yang besarnya sama atau seragam
– Umur telur beragam – Telur diseleksi hanya yang umurnya relatif sama
– Telur berasal dari induk dengan bangsa (breed) berbeda – Telur diseleksi hanya yang induknya dari bangsa yang sama
– Adanya penyakit atau cekaman pada sekelompok induk – Stres induk atau serangan penyakit harus dicegah
– Sirkulasi udara dalam mesin kurang baik – Ventilasi udara perlu dikontrol
Anak ayam yang menetas lembek – Sanitasi mesin tetas kurang baik – Mesin tetas harus disanitasi dengan baik dan benar
– Suhu ruang penetasan terlalu rendah – Termostat dan ventiiasi udara harus dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan terlalu tinggi – Bak air dan ventilasi udara harus dikontrol
Anak ayam yang menetas kekeringan – Telur terlalu dini ditetaskan – Telur diseleksi hanya yang cukup umur
– Kelembapan ruang penetasan terlalu rendah – Bak air dan ventiiasi udara dikontrol
– Anak ayam terlalu lama berada dalam mesin tetas setelah menetas – Anak ayam segera dikeluarkan dari mesin tetas setelah semua bulunya kering
Anak ayam yang baru menetasbasah, kotor, dan bau kurang sedap – Sanitasi mesin tetas kurang baik – Mesin tetas disanitasi dengan baik
Pusar basah dan tidak menutup dengan baik – Kualitas pakan untuk induk kurang sempuma – Induk diberi pakan berkualitas dan sesuai kebutuhan
– Suhu ruang penetasan terlalu rendah – Termostat dan ventilasi udara dikontrol
– Suhu ruang penetasan berubah-ubah – Termostat dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan terlalu tinggi – Bak air dan ventilasi udara dikontrol
– Kelembapan ruang penetasan setelah   anak ayam menetas tidak diturunkan – Bak air dikontrol dan kelembapan diturunkan
Pusar tidak menutup, basah,dan bau Anak ayam tidak dapat berdiri setelah menetas – Terjadi radang pusar (omfalitis) – Telur dan mesin tetas disanitasi dengan baik
– Ruang penetasan kotor – Mesin tetas disanitasi
– Kualitas pakan untuk indukkurang sempurna – Induk diberi pakan berkualitas dan sesuai kebutuhan
– Suhu ruang penetasan ti-dak memenuhi syarat – Suhu ruang penetasan harus sesuai dengan kebutuhan
– Kelembapan ruang pene-tasan terlalu tinggi – Bak air dan ventilasi udara dikontrol
– Perlakuan pembukaan ventilasi tidak memenuhi syarat – Ventilasi dibuka sesuai perkembangan embrio dengan pengaturan:* hari ke-1 sampai ke-3 tertutup penuh * hari ke-4 terbuka ¼ bagian

* hari ke-5 terbuka ½ bagian

* hari ke-6 terbuka 3/4 bagian

* hari ke-7 sampai ke-21 terbuka penuh

Anak ayam pengkor – Kualitas pakan untuk induk kurang baik – Induk diberi pakan yang baik dan berkualitas
– Suhu ruang penetasan naik-turun – Termostat dikontrol
– Posisi embrio tidak normal – Telur yang akan ditetaskan harus diseleksi
Jari-jari anak ayam bengkok –  Kualitas pakan untuk induk tidak sempurna – Induk diberi pakan berkua­ litas
–  Suhu ruang penetasan ti­dak memenuhi syarat -Termostat harus dikontrol 
Kaki anak ayam tidak lurus dan berjauhan satu sama lainBulu pendek mata tertutup –  Alas tempat anak ayam
licin-  Kualitas pakan induk ku­
rang sempurna

–  Suhu pada 10 hari pertama
masa penetasan terlalu
tinggi

–  Suhu menjelang menetas
terlalu tinggi

–  Kelembapan menjelang me­
netas terlalu tinggi

–  Ada banyak sisa-sisa bulu
rontok dalam ruang pene­
tasan

-Alas tempat anak ayam di-
buat dari bahan yang tidak
licin-  Induk diberi pakan berkua­
litas

–  Suhu diatur sesuai periode
penetasan

-Termostat dikontrol

-Bak air dikontrol

–  Sisa-sisa bulu rontok dalam
ruang penetasan dibersihkan

 

Baca Juga Mengetahui Perkembangan Embrio Ayam Secara Berkala

Mengetahui Perkembangan Embrio Ayam Secara Berkala

perkembangan embrioMengetahui Perkembangan Embrio Ayam Secara Berkala – Perkembangan embrio ayam terjadi di luar tubuh induknya. Selama berkembang, embrio  memperoleh makanan dan perlindungan dari telur yang berupa kuning telur, albumen, dan kerabang telur. Itulah sebabnya telur unggas selalu relatif besar.

Perkembangan embrio ayam tidak dapat seluruhnya dilihat dengan mata telanjang, melainkan perlu bantuan alat khusus seperti mikroskop atau kaca pembesar. Namun, untuk menggambarkan bagaimana perkembangannya, berikut dijelaskan ciri-ciri embrio ayam pada berbagai umur.

Dalam perkembangannya, embrio dibantu oleh kantung kuning telur, amnion, dan alantois. Kantung kuning telur yang dindingnya dapat menghasilkan enzim. Enzim ini mengubah isi kuning telur sehingga mudah diserap embrio. Amnion berfungsi sebagai bantal, sedangkan alantois berfungsi sebagai pembawa oksigen ke embrio, menyerap zat asam dari embrio, mengambil sisa-sisa pencernaan yang terdapat dalam ginjal dan menyimpannya dalam alantois, serta membantu mencerna albumen.

  1. Umur satu hari
    Bentuk awal embrio hari pertama belum terlihat jelas. Sel benih berkembang menjadi bentuk seperti cincin dengan bagian tepinya gelap, sedangkan bagian tengahnya agak terang. Bagian tengah ini merupakan sel benih betina yang sudah dibuahi dan dinamakan zygot blastoderm
    Sekitar 15 menit sesudah pembuahan, mulailah terjadi pembiakan sel-sel sebagai awal perkembangan embrio. Jadi, di dalam tubuh induk sudah terjadi perkembangan embrio.
  2. Umur dua hari
    Bentuk awal embrio hari kedua mulai terlihat jelas. Pada umur ini sudah terlihat primitive streak (suatu bentuk memanjang dari pusat blastoderm) yang kelak akan berkembang menjadi embrio. Pada blastoderm terdapat garis-garis warna merah yang merupakan petunjuk dimulainya sistem sirkulasi
  3. Umur tiga hari
    Pada hari ketiga ini, jantung sudah mulai terbentuk dan ber-denyut serta bentuk embrio sudah mulai tampak. Dengan meng-gunakan alat khusus seperti mikroskop dapat dilihat gelembung be-ning, kantung amnion, dan awal perkembangan alantois. Gelembung-gelembung bening tersebut nantinya akan menjadi otak. Sementara kantong amnion yang berisi cairan warna putih berfungsi melindungi embrio dari goncangan dan membuat embrio bergerak bebas.
  4. Umur empat hari
    Pada hari keempat ini mata sudah mulai kelihatan. Mata terse­but tampak sebagai bintik gelap yang terletak di sebelah kanan jan­tung. Selain itu, jantung sudah membesar.
    Dengan menggunakan mikroskop dapat dilihat otaknya. Otak ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu otak depan, otak tengah, dan otak belakang.
  5. Umur lima hari
    Hari kelima ini embrionya sudah mulai tampak lebih jelas. Kun-cup-kuncup anggota badan sudah mulai terbentuk. Ekor dan kepala embrio sudah berdekatan sfehingga tampak seperti huruf C.
    Dengan menggunakan mikroskop dapat dilihat bahwa telah ter-jadi perkembangan alat reproduksi dan sudah terbentuk jenis kela-minnya. Sementara amnion dan alantois sudah kelihatan.
  6. Umur enam hari
    Pada hari keenam ini kuncup-kuncup anggota badan sudah mu­lai terbentuk. Mata sudah tampak menonjol. Dengan mikroskop dapat dilihat bahwa rongga dadanya sudah mulai berkembang dan jantung sudah membesar. Selain itu, dapat dilihat otak, amnion dan alantois, kantong kuning telur, serta paruhnya.
  7. Umur tujuh hari
    Pada umur tujuh hari, paruhnya sudah tampak seperti bintik gelap pada dasar mata. Dengan menggunakan mikroskop dapat dilihat ba-gian tubuh lain sudah mulai terbentuk, yaitu otak dan leher.
  8. Umur delapan hari
    Pada hari kedelapan ini, mata embrio sudah jelas terlihat.
  9. Umur sembilan hari
    Umur sembilan hari ini lipatan dan pembuluh darahnya sudah bertambah serta jari kakinya mulai terbentuk.
  10. Umur sepuluh hari
    Umur sepuluh hari ini biasanya paruhnya sudah mulai keras. Dengan menggunakan mikroskop dapat dilihat folikel bulu embrio yang mulai terbentuk.
  11. Umur sebelas hari
    Embrio pada hari kesebelas sudah tampak seperti ayam. Embrio ini menjadi semakin besar sehingga yolk akan semakin menyusut dan paruhnya sudah mulai terlihat jelas.
  12. Umur dua belas hari
    Embrio umur dua belas hari sudah semakin besar dan mulai masuk ke yolk sehingga yolk semakin kecil. Mata sebelah kanan mulai membuka sedikit, sedangkan telinganya sudah mulai terlihat. Jari kakinya sudah terbentuk dan sudah tampak permulaan pertum-buhan bulu bagian bawah.
  13. Umur tiga belas hari
    Pada hari ketiga belas sisik dan cakar sudah mulai tampak jelas.
  14. Umur empat belas hari
    Embrio umur empat belas hari ini sudah tampak punggungnya meringkuk atau melengkung. Sementara bulu hampir menutup selu-ruh tubuhnya.
  15. Umur lima belas hari
    Pada umur lima belas hari ini biasanya kepala embrio sudah mengarah ke bagian tumpul dari telur.
  16. Umur enam belas hari
    Embrio pada umur enam belas hari sudah mengambil posisi yang baik di dalam kerabang. Sisik, cakar, dan paruh mulai mengeras dan bertanduk (lihat gambar hal. 41).
  17. Umur tujuh belas hari
    Pada umur tujuh belas hari ini paruh embrio sudah mengarah ke kantung udara
  18. Umur delapan belas hari
    Pada umur delapan belas hari ini embrio yang sudah tampak jelas seperi ayam akan mempersiapkan diri untuk menetas. Jari kaki, sayap, dan bulunya berkembang dengan baik
  19. Umur sembilan belas hari
    Pada umur sembilan belas hari biasanya paruh ayam ini sudah siap mematuk atau menusuk selaput kerabang dalam
  20. Umur dua puluh hari
    Pada umur dua puluh hari ini kantung kuning telur sudah masuk seluruhnya ke dalam rongga perut. Embrio ayam ini hampir menempati seluruh rongga di dalam telur, kecuali kantung udara.
    Pada hari kedua puluh ini terjadi serangkaian proses penetasan yang dimulai dengan kerabang mulai terbuka. Untuk membuka kera­bang ini, ayam menggunakan paruhnya dengan cara mematuk. Se-makin lama kerabang akan semakin besar membuka sehingga ayam dapat bernapas. Pada saat ini kelembapan sangat penting agar pengeringan selaput kerabang dan penempelan perut pada kerabang dapat dicegah. Selanjutnya ayam memutar tubuhnya dengan bantuan dorongan kakinya. Dengan bantuan sayapnya, keadaan pecahnya kerabang semakin besar.
  21. Umur dua puluh satu hari
    Pada hari kedua puluh satu ini ayam sudah membuka kera-bangnya walaupun belum seluruhnya. Dari keadaan ini biasanya tu-buh ayam memerlukan 12-18 jam untuk keluar dari kerabang. Setelah keluar dari kerabang, tubuhnya masih basah (lihat gambar-gambar hal. 44). Agar kering, diperlukan waktu sekitar 6-12 jam. Bila sudah kering, ayam tersebut dapat dikeluarkan dari dalam ruang mesin penetas.

Baca Juga Mitos Dan Fakta Tentang Kesuburan Pria